Pj Bupati Aceh Besar Buka Rakor Tim Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2023

Kota Jantho (Rabu, 24/05/2023) – Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto,S.STP.MM membuka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) / Rembuk Stunting Kabupaten Aceh Besar Tahun 2023 di Aula Kantor Bappeda Aceh Besar Kota Jantho. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekdakab. Aceh Besar Drs.Sulaimi,M.Si, Unsur Forkopimda, Pj. Ketua TP-PKK Aceh Besar Cut Rezky Handayani,SIP.MM, Asisten I Setdakab Aceh Besar Farhan,AP, Para Kepala OPD, Camat, Kepala Puskesmas, Pelaku Dunia Usaha dan Perbankan, serta tokoh-tokoh masyarakat.

Kepala Bappeda Aceh Besar Rahmawati,S.Pd dalam laporannya menjelaskan Rapat Koordinasi TPPS / Rembuk Stunting Kabupaten Aceh Besar Tahun 2023 dihadiri oleh 150 orang peserta yang berasal dari Forkopimda, Perangkat Daerah dan Stakeholder terkait. Adapun tema yang diusung adalah “Bergerak Sinergi dan Kolaborasi untuk Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Aceh Besar”.

Sementara itu, Pj. Bupati Muhammad Iswanto memberi apresiasi atas terselenggaranya Rapat Koordinasi tesebut. “Saat ini, upaya penurunan angka stunting sudah menjadi agenda nasional yang harus kita dukung dan sukseskan bersama-sama. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, sebagai upaya untuk membangun komunikasi dan persepsi bersama terhadap gizi balita. Nantinya dokumentasi kegiatan ini akan disampaikan kepada Dirjen Bangda Kemendagri melalui aplikasi 8 Aksi Konvergensi (Master Ansit)” ujar Iswanto.

(Foto: Pembukaan Rakor Tim Percepatan Penurunan Stunting oleh Pj Bupati Aceh Besar)

Pada kesempatan ini Pj Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto, S.STP MM bersama pejabat terkait menandatangani komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam rangka penurunan prevalensi stunting tahun 2023, meliputi upaya mewujudkan implementasi 8 aksi konvergensi dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Aceh Besar, meningkatkan alokasi anggaran untuk percepatan penurunan stunting, baik melalui APBK, APBA, APBN, mapun sumber anggaran lainnya.

Selain itu, melakukan pengembangan rumah gizi gampong dan dapur sehat sangat bermanfaat untuk mengatasi stunting sebagai upaya pengembangan kebijakan konsumsi pangan lokal dan regulasi komunikasi perubahan perilaku, penyediaan sarana dan prasarana sanitasi dan layanan akses air bersih, penguatan sinergisitas lintas sektor, pendampingan keluarga, serta manajemen data yang baik dan akurat.

Iswanto melanjutkan, upaya percepatan penurunan angka stunting telah menjadi program prioritas nasional dan menjadi salah satu indikator pada penilaian kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota yang dilakukan Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri. Hal ini terjadi, karena stunting akan menentukan kondisi penduduk pada masa yang akan datang. Balita stunting akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan tinggi badannya, terjadinya gangguan pertumbuhan sel cognitive yang mengakibatkan terjadinya hambatan dalam kegiatan pembelajaran serta rentan terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan stroke.

Dalam banyak tinjauan, jelas Pj Bupati Aceh Besar, keadaan status gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi. Kondisi yang terlibat adalah kemiskinan, kurang persediaan pangan, kurangnya kualitas lingkungan serta rendahnya pemahaman masyarakat. Stabilitas keluarga, pemberdayaan perempuan/keluarga, masalah pemberdayaan, pengangguran dan inflasi juga faktor yang sangat menentukan tingkat konsumsi. Dari sinilah persoalan capacity building (mengembangkan kemampuan) dalam integrasi gizi masyarakat terus ditekankan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Iswanto mengharapkan perhatian semua peserta Rakor Penurunan Angka Stunting untuk melakukan hal-hal penting. Seperti meningkatkan konvergensi, kolaborasi, sinergi dan sinkronisasi lintas sektor, lintas organisasi perangkat daerah, lintas program dan kegiatan, lintas kader dan bahkan lintas sumber anggaran, supaya aksi dan intervensi yang dilakukan terfokus pada sasaran yang telah ditetapkan.

Upaya lainnya adalah melakukan koordinasi dan evaluasi secara berjenjang, terstruktur dan periodik, untuk mengoptimalkan kinerja posyandu melalui peningkatan cakupan kunjungan ibu dan balita, meningkatkan keakuratan pengukuran dan penimbangan serta memastikan inputan data ke aplikasi e-PPGBM tepat waktu. Penguatan kinerja Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari Kader Tim Penggerak PKK Gampong, bidan desa dan Kader Keluarga Berencana sangat penting dilakukan dalam upaya melakukan pendampingan kepada calon pengantin, ibu hamil, dan ibu yang memiliki balita untuk melakukan pencegahan supaya tidak terjadi kelahiran bayi stunting baru pada masa yang akan datang.

Hal lain yang perlu terus dilanjutkan adalah meningkatkan kerja sama dengan dengan Muspika, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh dat dan dunia usaha/industri untuk berkontribusi pada aksi dan intervensi dalam percepatan penurunan stunting di wilayah masing-masing. (Mariadi/*)

FOTO/ PROKOPIM SETDAKAB. ACEH BESAR

Check Also

Bappeda Aceh Besar Lakukan Desk Penyusunan RKPD Tahun 2025

Kota Jantho (Senin, 20/05/2024) – Menindaklanjuti hasil pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan …

Tinggalkan Balasan