Studi Kelayakan Pengembangan Kawasan Agrowisata Rambutan Di Kota Jantho

I. LATAR BELAKANG
Pertanian mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia karena berfungsi sebagai penyedia pangan, pakan untuk ternak, dan bioenergi. Peran pertanian sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional, terutama mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan daya saing, penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan. Selain itu, mendorong pertumbuhan agroindustri di hilir dan memacu ekspor komoditas pertanian untuk meningkatkan devisa negara. Varietas Rambutan Aceh merupakan salah satu tanaman rambutan yang sangat berpotensi untuk dibudidayakan di wilayah Kabupaten Aceh Besar untuk meningkatkan ketahanan pangan dan daya saing daerah guna mendukung terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan modern.

II. RUMUSAN PERMASALAHAN
Saat ini Rambutan Aceh kurang dipromosikan dan tidak menjadi primadona di wilayah Kabupaten Aceh Besar, sehingga riset ataupun kajian tentang teknik budidaya sampai dengan penanganan pasca panen sangat sedikit dilakukan. Oleh karena itu, untuk mengangkat Rambutan Aceh kembali menjadi produk unggulan daerah, maka perlu pengembangan budidaya lebih lanjut sampai dengan proses penanganan pasca panennya agar transformasi pengolahan hasil pertanian dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

III. TUJUAN DAN MANFAAT
Studi ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting produksi rambutan di wilayah Kabupaten Aceh Besar (Kecamatan Kota Jantho dan sekitarnya), sekaligus menganalisis kelayakan pengembangan Kota Jantho sebagai kawasan agrowisata Rambutan Aceh pada aspek teknis, sosial ekonomi, teknologi, dan kelembagaan.

IV. METODOLOGI
Studi ini dilakukan melalui metode survei dan eksplorasi data sekunder, yang disertai dengan Analisis Spasial (Tata Ruang Wilayah), Analisis Budidaya Pertanian, Analisis Kelembagaan dan Sosial Ekonomi, dan Analisis Iklim.

V. HASIL

  1. Tingkat kesuburan lahan masuk dalam kategori sedang dengan tingkat drainase tergolong baik, sehingga sangat layak untuk budidaya Rambutan Aceh;
  2. Memiliki kondisi geografis yang baik untuk prospek budidaya Rambutan Aceh;
  3. Berdasarkan analisis produksi dan konsumsi, budidaya Rambutan Aceh sangat berpotensi dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar;
  4. Aspek kelembagaan petani rambutan tersedia dengan baik, namun jumlah dan aksesnya perlu ditingkatkan untuk mampu menunjang peningkatan produksi pertanian;
  5. Perkebunan rambutan di wilayah Kota Jantho dan sekitarnya termasuk perkebunan rakyat yang pengelolaannya masih kurang baik (belum standar), dan berupa hutan rambutan yang ditumbuhi gulma (hama);
  6. Teknik budidaya yang dilakukan oleh petani rambutan masih sangat rendah;
  7. Perkebunan Rambutan di wilayah Kota Jantho dan sekitarnya cenderung belum terawat dan sanitasi kurang baik, sehingga memunculkan penyakit yang menyerang tanaman seperti: Dieback (Mati Ranting), Kanker Batang, Busuk Buah Muda, Kutu Putih, dan Ulat Penggerek Batang;
  8. Penggunaan Teknologi Modern (Smart Farming) masih minim dilakukan oleh petani rambutan;
  9. Kegiatan peremajaan rambutan (menggantikan tanaman yang sudah tua dan mati) masih sedikit dilakukan dan tidak menjadi perhatian;
  10. Belum adanya arah pengembangan kawasan industri pengolahan Rambutan Aceh;
  11. Teknologi pasca panen (penyimpanan) rambutan tidak sepenuhnya dilakukan untuk sterilisasi, ketahanan dan masa simpannya.

VI. REKOMENDASI

  1. Kota Jantho dan sekitarnya memiliki iklim dan lahan yang cocok untuk pengembangan Agrowisata Rambutan kedepannya;
  2. Diperlukan teknik budidaya yang intensif terhadap pengembangan Agrowisata Rambutan agar menghasilkan produksi yang tinggi setiap tahunnya;
  3. Penerapan Sistem Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara maksimal sehingga penyakit dan hama yang terdapat pada tanaman rambutan dapat dikurangi;
  4. Pentingnya pengembangan teknologi irigasi untuk membantu petani rambutan dalam memastikan kebutuhan air tercukupi dengan
    Irigasi Sprinkler;
  5. Penyediaan kombinasi pupuk NPK dan pupuk kandang yang dapat menyuburkan tanaman rambutan;
  6. Penerapan teknologi pasca panen yang optimal sehingga buah rambutan dapat memiliki umur simpan yang lama serta dapat dikonsumsi setiap saat;
  7. Melakukan diversifikasi buah rambutan untuk meningkatkan animo masyarakat agar lebih membudidayakan tanaman tersebut;
  8. Memanfaatkan stakeholder dan potensi sumberdaya yang ada baik untuk pemasaran produk maupun intervensi teknologi tertentu;
  9. Mendorong produksi agroindustri melalui penguatan kemitraan lembaga pendukung terhadap produk olahan Rambutan Aceh;
  10. Melakukan penyuluhan kepada petani rambutan mengenai tata cara pengelolaan proses budidaya dan teknologi pasca panen rambutan;
  11. Rekreasi dan promosi pada jenis-jenis Rambutan Aceh sebagai keunikan pertanian di wilayah Kabupaten Aceh Besar.

Tinggalkan Balasan